Serba Serbi Seputar Pengajuan SKTM

Dari sekitar 150 siswa yang mengajukan keringanan biaya sekolah di SMA 1 Pekalongan, SMA 1  melakukan survey kepada sebagian di antara mereka yang kelayakan penerimaan keringanan biayanya diragukan. Diantaranya adalah mereka yang orang tuanya PNS, penghasilannya lebih dari Rp. 2.500.000, sarana transportasinya ke sekolah bagus, dll.

Ada banyak cerita dari hasil mengintip Tim Beasiswa kepada beberapa keluarga siswa pengaju SKTM.

Sebagian besar siswa yang disurvey memang benar-benar membutuhkan keringanan biaya. Ada yang ayahnya menderita penyakit stroke dan sang ibu harus melayani keperluan suaminya sehingga terpaksa harus mengundurkan diri dari pekerjaannya. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka bergantung kepada sang kakak yang bekerja, yang kebetulan belum berumah tangga. Cerita lain, sang ibu berjualan soto di rumah dan sang ayah bekerja di luar kota. Rumahnya berlantai tanah dan tata ruangnya jauh dari kata layak sebagai tempat hunian yang nyaman. Sang ibu bercerita kadang-kadang dua hari tidak ada orang yang datang untuk membeli sotonya. Selain siswa yang bersekolah di SMANSA, dua putrinya sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di kunjungan berikutnya, sang ayah seorang salesman dan sang ibu sakit dan membutuhkan biaya rutin untuk berobat. Mereka belum punya rumah dan tinggal di rumah milik orang tuanya.  Dan ada cerita-cerita sedih lain dan kita berharap anak-anak dari keluarga-keluarga tersebut akan tumbuh menjadi orang-orang yang bermental baja karena tempaan kehidupan yang demikian keras. Ya..mereka memang layak diberi bantuan sekedar untuk meringankan beban hidup yang demikian berat.

Tetapi ada cerita lain yang membuat kita tercekat. Berkunjung ke sebuah rumah keluarga pengaju SKTM, Tim beasiswa dibuat tercengang dengan rumahnya yang sangat bagus dan terawat. Kamar mandinya sekelas kamar mandi hotel berbintang 3. Sang ibu bercerita bahwa suaminya tidak bekerja pasca bangkrutnya usahanya. Sang bapak terlena dengan hobi-hobinya yang tidak mendatangkan income untuk keluarga. Jadilah mereka mengajukan SKTM.

Di kunjungan yang lain, tim survey kembali geleng-geleng kepala mendapati rumah pengaju SKTM yang bagus, ada beberapa kendaraan, ada mobil, dan kamar ber AC. Ketika kami menanyakan mengapa mengajukan SKTM, sang ibu mengatakan bahwa mereka terlilit hutang. Hutang untuk melunasi mobil. Duh…..bagaimana dengan mereka yang berhutang untuk bisa makan sehari-hari? Mereka lebih layak menerima SKTM.

Ada lagi seorang ibu yang datang ke sekolah dengan bergelang emas dan penampilan trendy dan tas bagus dan bermaksud mengajukan SKTM. Tentu yang seperti ini membuat tim ragu apakah memang yang bersangkutan benar-benar membutuhkan keringanan biaya?

Hal lain yang di luar nalar adalah ada beberapa siswa pengaju SKTM yang ternyata mereka aktif mengikuti bimbingan belajar di beberapa tempat, yang tentu biayanya tidak murah. Selain itu, beberapa siswa pengaju SKTM menggunakan fasilitas yang memadai, misalnya gadget yang lumayan bagus, sepatu dan tas bermerk, lap top keluaran terbaru, uang saku yang berlebih, dan lain-lain. Wow…how come? Ada biaya untuk keperluan tersebut, tetapi mengapa jadi tidak ada bila untuk membayar sekolah? Bukankah membayar biaya sekolah adalah investasi untuk masa depan siswa itu sendiri? Bagaimana pula bila ternyata ada siswa yang lebih membutuhkan bantuan, sementara mereka harus berbagi dengan siswa yang sebenarnya bisa membayar tanpa mengajukan keringanan biaya?

Dan ada beberapa cerita serupa yang membuat kita sadar bahwa ada orang-orang yang dengan mudah merasa dirinya tidak mampu karena merasa kurang dengan apa yang ada. Kalau mau berusaha dan mencukupkan diri dengan apa yang dimiliki, sebenarnya kita bisa membayar biaya sekolah tanpa meminta keringanan. Bukankah optimisme akan memudahkan datangnya rejeki? Seperti kata seorang Bapak tukang bangunan yang ditanya oleh salah satu guru, “Mengapa Bapak tidak mengajukan SKTM saja? Dan sang Bapak menjawab, “Kalau saya mengajukan SKTM, berarti saya menutup jalan rejeki saya sendiri, Bu. Biarlah saya berusaha dulu, kalau memang nanti mentok, ya apa boleh buat, mungkin saya akan mengajukan SKTM.”

Selain survey ke rumah-rumah, Tim beasiswa juga melakukan wawancara kepada siswa yang pertanyaannya meliputi penghasilan orang tua, jumlah tanggungan keluarga, fasilitas rumah tangga, jumlah kendaraan bermotor dan lain-lain. Siswa juga diminta mengumpulkan foto rumah tampak depan, kamar mandi, tempat cuci dan dapur serta mengumpulkan foto kopi rekening listrik per bulan.

Survey dan wawancara dilakukan semata-mata agar pemberian pembebasan atau keringanan biaya sekolah benar-benar tepat sasaran.

Hasil survey dilaporkan kepada fihak sekolah dan sekolah akan menentukan siapa saja yang mendapat pembebasan atau keringanan dan berapa besar keringanan yang diperoleh oleh tiap-tiap siswa pengaju SKTM. Tidak semua pengaju SKTM menerima keringanan biaya berdasarkan hasil survey dan wawancara oleh Tim Beasiswa. Sekolah akan memberikan surat pemberitahuan resmi kepada orang tua siswa yang mengajukan SKTM dalam waktu dekat.

 

(Indah Muslichatun; Humas dan SDM)

Leave a Reply

%d bloggers like this: